14 December 2008

Gejolak Masa Puber II

....

Selayaknya pasangan muda yang baru mengenal cinta, kamipun menjalaninya dengan kisah kasih di sekolah, mirip sekali dengan kisah Rano Karno dalam film Galih dan Ratna. Kami lebih sering menghabiskan waktu berdua untuk mengerjakan PR, bergurau dan makan siang bersama ketika tanda istirahat berbunyi, pun jalan berbarengan ketika pulang sekolah. Kami jarang sekali melewatkan malam minggu bersama, karena aku harus pulang ke rumah. Saat itu, hatiku bergumam... "Masa SMA adalah masa terindah dalam hidupku" setidaknya untuk saat itu.

Aku termasuk murid yang bandel di sekolah, tidak jarang aku menghabiskan waktu bersama teman-teman untuk minum-minuman, menghisap ganja atau balapan liar. Dibalik itu semua, dan kebalikannya, aku juga termasuk salah satu murid yang berprestasi. Nilai-nilai ujian pertengahan dan akhir catur wulan selalu memuaskan, bahkan juga tidak jarang aku memperoleh ranking 5 besar di kelas.

Sifatku berkebalikan dengan sifatnya, Dian adalah sosok wanita yang pendiam dan sedikit pemalu. Saat itu banyak yang menilai kami adalah sebuah pasangan "Angel and Demon", tak apalah... Kadang cinta tidak memandang usia, status ataupun bentuk fisik dari kedua insan manusia yang menjalaninya. Dian selalu sabar untuk memberikan nasehat yang berarti buatku, dia juga selalu sabar dan tidak pernah meninggalkanku ketika aku tertimpa masalah.

Pernah sekali aku tertawa di dalam hati ketika dia mengatakan "Kamu akan lebih ganteng kalau kamu merubah semua sikap nakalmu", hahahaha semua orang tahu bahwa aku bukan tipikal cowok macho dan ganteng, akupun menyadari itu. Selama kurang lebih 9 bulan kami menghabiskannya dengan senyum, tawa, sedih, bahkan tangis. Mungkin itulah kenapa Tuhan memberikan perbedaan kepada setiap manusia.

Mungkin karena sifat ergosentrisku terlalu besar, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan secara sepihak. Aku sadar bahwa aku masih cinta dan sayang kepadanya. Bahkan kami sempat berencana untuk memberikan nama calon anak kami dengan nama "Risna", entah apa arti dari nama itu, mungkin adalah inisial kami berdua. Saat aku mengambil pilihan untuk putus, aku benar-benar merasa seperti manusia tidak mempunyai perasaan, tidak ada rasa penyesalan ataupun kesedihan dalam benakku. Aku masih terhanyut dengan gejolak masa puber di sekolah...


Bersambung...

No comments: