Inilah bagian dari kisah hidupku yang mungkin tak 'kan pernah terselesaikan. Semuanya meninggalkan goresan-goresan memori yang sampai kini ada satu yang paling membekas...Dian Astarini. Dia adalah cinta pertamaku, ketika aku lulus dari SMP dan mulai masuk kedalam jenjang SMA, aku mulai diperkenalkan dengan yang namanya perasaan suka dan cinta. Aku termasuk lelaki yang memiliki sifat "minder" terhadap lawan jenis. Hari pertama di sekolah, aku memilih duduk di bangku belakang paling pojok. Dengan asumsi aku bisa menyendiri dan tidak banyak bertegur sapa dengan teman-teman baruku. Saat wali kelas mulai memperkenalkan diri sekaligus memberikan penjelasan singkat mengenai sistem belajar di SMA, ada salah satu siswi memakai kerudung putih nampak sedikit takut ketika memasuki ruang kelas kami. Sambil menunjukkan mimik muka takut dan wajah yang memerah, dia mulai memperkenalkan diri, "Selamat pagi semuanya, maaf saya datang terlambat. O yah, namaku Dian", tak lama kemudian Wali kelas kami mempersilahkan gadis manis itu untuk mengambil tempat duduk yang tersedia. Seingatku tidak ada hal yang istimewa lagi setelah itu.
Aku terbiasa masuk lebih pagi dari teman-temanku, kebetulan aku indekos di tempat yang tidak begitu jauh dari sekolah. Setiap pagi setelah tidak begitu lama aku duduk di tempatku, sosok Dian muncul dengan senyum manisnya, dia tidak menegurku dan begitu juga aku. Aku ingat sekali, waktu itu aku secara tidak sengaja menyanyi dengan suara lirih lagu "Mungkinkah" yang dimainkan oleh kelompok band "Stinky". Agak lama aku menyanyi, gadis itu menyapaku "Wah, jangan menyanyi lagi itu donk... Aku teringat dengan cowokku... Please..." Baiklah, aku tidak melanjutkannya.
Hari demi hari, dan minggupun berjalan demi minggu sampai aku merasakan ada rasa suka terhadap dia dan mungkin rasa cinta yang begitu dalam. Dia memiliki alis dan mata yang indah, kalau aku boleh bilang, tatapan matanya membuat setiap lelaki merasa terpesona... entah mengapa. Saat itu bukanlah hal yang mudah bagiku untuk secara berani berterus terang mengenai apa yang aku rasakan, apalagi aku tahu bahwa dia telah memiliki cowok, Yahya namanya. Pada jamanku SMA, memiliki cowok anak kuliahan adalah sebuah kebanggaan tersendiri, mungkin hal itu juga yang dirasakan olehnya. Tak apalah, aku akan coba untuk mendekati dia, apapun resikonya.
Setiap harinya, hubungan kami semakin akrab, aku lebih sering berbicara dengan dia di kelas, rasa malupun pelan-pelan terkikis seiring timbulnya rasa nyaman ketika aku berada disisinya setiap saat kami bersama di kelas. Apabila ada waktu senggang, aku menyempatkan diri bermain ke rumahnya, dan kalau boleh jujur saat itu adalah sebuah moment yang paling berharga di setiap waktuku. Aku bisa lebih sering berlama-lama untuk sekedar melihat alis matanya dan manis senyumnya.
Sampai pada suatu waktu, aku memberanikan diri untuk mengutarakan semua isi hatiku, kebetulan kami berjumpa di tempat dimana aku indekos. Malam itu bukanlah malam yang enak dan nyaman, badanku terasa panas dan peluhpun menetes dari kepalaku. Ingin segera aku mengatakan "Aku cinta kamu" tapi perkataan itu entah kenapa lama sekali terucap. Dia lama menatapku, mungkin menanti perkataan apa yang nantinya akan keluar dari mulutku. "Dian, aku cinta kamu. Aku ingin menjadi bagian yang terindah dalam hidupmu" tanpa kusadari kata itupun terucap... Malam itu, 23 Juni 1997 kami resmi mengikrarkan diri untuk mencoba saling setia dan belajar untuk mencintai satu dengan lainnya.
Bersambung...
by betha aris susanto, jakarta, 13 Desember 2008
4 comments:
nice post kang betha .. nice story .. tiada masa paling indah, masa-masa di SMU
byek! iyo ta wehhhhhh!
ayo ndra' skrng giliranmu, cerita dong masa2 sma. palagi pas kita di kelas 2.5 dulu hehe..
mmmm....
nice..
Post a Comment